Keesokan paginya, arena kembali ramai. Sorakan penonton memenuhi udara, memberi semangat kepada peserta yang akan bertarung di babak berikutnya.

Pada pertandingan babak kedua ini, Narendra mendapatkan urutan bertanding paling awal.  Narendra berdiri di tengah arena, tombaknya tergenggam erat di tangan. Wajahnya menunjukkan percaya diri, sementara matanya memperhatikan lawannya yang sudah menunggu di sisi lain.

Orang itu berbeda dari peserta lainnya. Tubuhnya dicat dengan garis-garis putih dan merah yang melilit seperti ular, kontras dengan kulit kecokelatannya. Wajahnya dihiasi riasan hitam tebal, dengan dua garis merah vertikal yang melintas dari kening hingga dagu. Ia berdiri tanpa sepatah kata, tangan kosong, dengan sikap tenang namun mengintimidasi.

Sementara itu, Lynx, Kanha dan Rira berdiri didekat arena untuk memberi semangat, sementara Banu beserta kakaknya menonton dari kejauhan.

"Dia siapa?" tanya Kanha dengan nada penasaran dari pinggir arena, berdiri di dekat Rira.

"Aku tidak tahu," jawab Rira pelan, alisnya berkerut. "Aku tidak pernah melihatnya sebelumya. Tapi dia…terasa berbeda."

Narendra melangkah maju, tombaknya terangkat. "Hei, kau," katanya dengan suara lantang. "Kau terlihat menarik, tapi aku sarankan kau menyerah saja. Aku tidak ingin melukaimu."

Lawan itu tidak menjawab. Bahkan tidak bergerak sedikitpun.

Narendra tersenyum tipis, menganggap dirinya sudah unggul. Ia menoleh ke arah Lynx yang berdiri di dekat pagar arena. "Lihat, aku akan menyelesaikan ini dengan cepat," katanya dengan nada percaya diri.

Namun, Lynx tidak membalas senyuman Narendra. Ia hanya memandang lawan Narendra dengan ekspresi serius. "Hati-hati, Narendra, jangan pernah meremehkan lawan" katanya pelan.

Narendra mengabaikan peringatan itu dan mulai bergerak. Ia berlari mendekati lawannya, mengayunkan tombaknya dengan gerakan cepat ke arah kaki orang itu. Tapi dengan gerakan yang hampir tidak terlihat, pria bercat tubuh itu melompat ke belakang, menghindari serangan dengan mudah.

Narendra menyipitkan mata, merasa ada sesuatu yang aneh. "Kau cukup cepat," gumamnya, sebelum melanjutkan serangan dengan tusukan bertubi-tubi.

Namun, lawannya seperti bayangan. Setiap serangan Narendra meleset, dan pria itu bergerak seolah-olah tahu setiap langkah yang akan diambil Narendra sebelum dilakukan.

Narendra tidak mau menyerah, dia berusaha mendekati dan melakukan berbagai tipu serangan untuk menyerang lawan, namun tidak ada satupun dari serangan Narendra yang dapat mengenainya.

Penonton mulai bersorak lebih keras, sebagian besar mendukung pria bercat tubuh itu.

"Dia sedang mempermainkanmu!" teriak seseorang dari kerumunan.

"Terlalu lemah, mundur saja!" Teriak Banu dari kejauhan.

Narendra mencoba memancing gerakan lawan agar mengikuti kemauannya, gerakan ini sering diajarkan Lynx agar bisa mengendalikan situasi, tetapi lawan tetap berdiri dengan tenang tidak terpengaruh.

Narendra kembali menyerang dengan kecepatannya. Dia berputar cepat kearah belakang lawan, lalu menyerangnya dari belakang.

Seolah memiliki mata di belakang kepala, lawannya tanpa menoleh, dapat menghindari serangan Narendra dengan menggeser tubuhnya ke samping lalu melompat ke depan.

Narendra menggertakkan giginya, merasa frustasi. Ia melangkah mundur, mencoba mengatur napasnya. "Siapa kau sebenarnya?" tanyanya, berharap mendapat jawaban.

Namun, pria itu tetap diam, hanya menatap Narendra dengan ekspresi dingin.

"Diam saja, ya?" Narendra mencoba memancing emosi. "Kau pikir kau bisa menang melawanku hanya dengan menghindar? Cepat serang aku kalau kau punya nyali!"

Pria itu akhirnya bergerak. Dengan kecepatan luar biasa, ia melesat ke arah Narendra. Sebelum Narendra sempat bereaksi, pria itu sudah ada di belakangnya, menendang punggungnya dengan keras. Narendra terjatuh ke tanah, terbatuk karena kehilangan keseimbangan.

"Bangun, Kak Narendra! Lawan dia!" teriak Kanha dari pinggir arena. "Kau pasti bisa mengalahkan dia!"

Narendra bangkit dengan susah payah, tombaknya terangkat lagi. Namun, saat ia maju untuk menyerang, pria itu menangkis tombaknya dengan mudah, menggunakan lengan yang tampak sekuat baja.

"Dia seperti tahu semua gerakanku," pikir Narendra, keringat mengalir di dahinya.

Pertarungan terus berlanjut, tetapi semakin lama, Narendra semakin kewalahan. Setiap serangannya gagal, dan setiap serangan balik dari lawannya semakin keras dan mematikan. Tangan Narendra mulai gemetar, tubuhnya dipenuhi luka-luka kecil dari pukulan dan tendangan pria bercat tubuh itu.

Lynx yang berdiri di luar arena menggenggam pagar kayu dengan erat, matanya tidak lepas dari pertandingan. "Dia dalam bahaya," gumamnya.

Pria bercat tubuh itu akhirnya melangkah mendekati Narendra yang terhuyung-huyung. Dengan satu gerakan cepat, ia menendang tombak dari tangan Narendra, membuat senjata itu terpental jauh. Narendra terjatuh, terengah-engah, mencoba bangkit.

"Kau belum selesai denganku," kata Narendra, meskipun suaranya terdengar lemah.

Namun, pria itu tidak memberikan kesempatan. Ia mengangkat kakinya, bersiap untuk memberikan tendangan terakhir ke kepala Narendra.

"Cukup!" Lynx melompat ke dalam arena dengan kecepatan luar biasa, tubuhnya bergerak seperti kilat. Sebelum tendangan pria itu mengenai Narendra, Lynx sudah berada di depan mereka, menahan kaki pria itu dengan satu tangan.

Penonton terkejut, beberapa dari mereka berdiri untuk melihat lebih jelas.

"Pertandingan sudah berakhir," kata Lynx dengan nada dingin. "Narendra kalah. Tidak ada alasan untuk membunuhnya."

Pria bercat tubuh itu menatap Lynx dengan mata penuh amarah, tapi akhirnya menurunkan kakinya dan mundur tanpa sepatah kata.

Lynx membantu Narendra bangkit, memapahnya keluar dari arena. "Aku bilang hati-hati, jangan meremehkan lawan," gumamnya, meskipun ada nada lembut di balik kata-katanya.

Narendra tersenyum lemah, wajahnya penuh luka. "Aku… terlalu percaya diri."

"Banyak yang harus kau pelajari," kata Lynx, menepuk pundak Narendra dengan lembut. "Tapi kau bertarung dengan baik."

Kanha dan Rira berlari mendekat, wajahnya penuh kekhawatiran. "Kak Narendra, kau tidak apa-apa? Aku bilang jangan terlalu sombong!"

Narendra tertawa kecil meskipun kesakitan. "Ya, kau benar. Kau selalu benar, Kanha."

Sementara itu, pria bercat tubuh itu melangkah keluar dari arena, kembali ke bayang-bayang, tanpa mengucapkan satu kata pun. Tidak ada yang tahu siapa dia atau dari mana asalnya, tapi satu hal jelas—ia bukan peserta biasa.

Narendra duduk di dekat api unggun dengan wajah penuh luka. Lynx dibantu Rira, sedang membersihkan luka-lukanya, menggunakan kain bersih dan obat herbal yang selalu di bawa oleh Lynx untung persiapan seandainya ada yang terluka. Kanha duduk di samping kakaknya, sesekali mendesis melihat luka-luka di tubuh Narendra.

"Kak Narendra, kau terlihat seperti habis dihajar babi hutan," ujar Kanha sambil terkekeh kecil.

Narendra mendesah, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. "Aku hanya kurang beruntung. Lain kali, aku akan lebih siap."

Lynx memandang Narendra dengan alis terangkat. "Kau bertarung dengan baik, tapi kau terlalu percaya pada kekuatanmu sendiri. Kau lupa bahwa pertarungan bukan hanya soal tenaga, tapi juga strategi."

Narendra menunduk, mengangguk pelan. "Aku tahu. Dia... dia aneh. Setiap gerakanku seperti sudah dia ketahui sebelumnya."

"Dia memang bukan lawan biasa," kata Lynx. "Tapi jangan biarkan ini membuatmu kehilangan semangat. Pertarungan adalah tentang belajar, dan kau masih punya banyak waktu untuk menjadi lebih baik."

Kanha mengangguk setuju. "Betul! Lagipula, Kak Lynx di sini untuk melatih kita, kan? Nanti kau bisa mengalahkan orang itu!"

Narendra tersenyum kecil. "Ya, aku akan mencoba lagi. Aku rasa dia ada di level yang berbeda, tapi aku tidak akan kalah lagi darinya di masa depan"

Sementara mereka berbicara, Rira yang keluar setelah membersihkan luka Narendra, kembali datang mendekat dengan membawa semangkuk air panas dan beberapa helai daun obat. "Ini untuk membantumu merasa lebih baik," katanya sambil duduk di samping Narendra.

"Terima kasih," kata Narendra, menerima mangkuk itu.

Namun, suasana tenang mereka terganggu oleh suara tawa keras dari kejauhan.

Ketika mereka menoleh, mereka melihat Banu dan anak buahnya berkumpul di dekat kelompok lain, mengobrol dan tertawa keras.

"Kau dengar itu?" suara Banu menggema. "Narendra? Dia bahkan tidak bisa melawan seorang pendatang misterius! Apa yang dia pikirkan dengan mendaftar di sini? Dia hanya mempermalukan dirinya sendiri!"

Anak buahnya tertawa, mengangguk setuju.

Kanha langsung berdiri dengan tangan terkepal. "Berani sekali dia bicara seperti itu!"

Lynx menepuk bahu Kanha, membuatnya duduk kembali. "Diamlah. Jangan berikan mereka apa yang mereka inginkan."

Namun, tawa Banu semakin keras saat dia melangkah mendekat ke arah mereka, senyumnya penuh ejekan. "Lihat saja mereka. Satu terluka parah, satu lagi hanya bocah kecil, dan satu lagi..." Dia memandang Lynx dari atas ke bawah. "Seperti perempuan yang tersesat."

Rira langsung berdiri, wajahnya merah padam. "Hentikan, Banu. Kau tidak perlu menghina mereka!"

Banu mengangkat bahu dengan santai. "Aku hanya mengatakan kebenaran. Kau tahu, Rira, kau harus mulai mencari teman yang lebih layak. Orang-orang ini akan membuatmu malu."

Kanha berdiri lagi, menunjuk ke arah Banu. "Kau hanya takut karena tahu Kak Lynx akan menghajarmu di pertandingan nanti!"

Tawa Banu terhenti, matanya menyipit. "Apa yang kau katakan, bocah?"

"Kau dengar aku!" balas Kanha dengan nada menantang. "Kak Lynx lebih kuat dari siapapun di sini, termasuk kau!"

Banu melangkah lebih dekat, tetapi sebelum dia bisa mendekati Kanha, Lynx berdiri di depannya. Tatapannya dingin, tidak menunjukkan emosi apa pun.

"Jika kau mau mencoba sesuatu, lakukan di arena," kata Lynx dengan suara tenang namun penuh ancaman.

Banu menatap Lynx selama beberapa detik, lalu menyeringai. "Kau beruntung aku tidak mau membuat keributan di sini. Tapi ingat, saat pertandingan nanti, aku akan memastikan kau tidak meninggalkan arena dengan utuh."

Dia berbalik dan melangkah pergi dengan anak buahnya, meskipun wajahnya menunjukkan kemarahan yang terpendam.

Setelah Banu pergi, Rira mendekati Lynx. "Kau tidak perlu meladeni dia," katanya, suaranya pelan. "Banu memang selalu mencari masalah."

Lynx menatap Rira, lalu mengangguk. "Aku tahu. Tapi aku tidak akan membiarkan dia menyakiti siapa pun di sini, terutama kalian."

Narendra, meskipun kesakitan, tertawa kecil. "Kanha, kau harus belajar menahan lidahmu. Tapi aku akui, kau punya nyali."

Kanha menyeringai lebar. "Tentu saja! Aku ini hebat!"

Rira menggeleng, tapi senyum kecil muncul di wajahnya. Malam itu, meskipun ancaman Banu masih menggantung di udara, mereka merasa lebih dekat satu sama lain, bersiap untuk tantangan berikutnya.


